Sepenggal Sejarah
Pada sekitar tahun 1983 Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) Tarbiyah yang dikenal dengan sebutan sekarang Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah (BEM-FT) berumbuk untuk membahas agar di dalam fakultas tarbiyah terdapat wadah untuk menyalurkan minat dan bakat mahasiswanya dalam bidang kesenian. Karena selama ini kesenian hanya ada pada perlombaan antar mahasiswa dalam acara pekan olah raga dan seni. Hal ini sudah tentu selain ada perlombaan sebagai hasil karya mahasiswa itu sendiri dan juga motivasi untuk mengembangkannya dalam kegiatan pengembangan. Dari sana lah kemudian dalam SMF Tarbiyah ditambahkan bidang kesenian yang menjadi bagian terikat pada kabinet ketika itu.
Dengan adanya bagian dalam kabinet SMF Tarbiyah, maka itu menjadi wadah untuk menyalurkan kreatifitas mahasiswa fakultas tarbiyah. Walaupun pada masa tersebut belum ada sistem kaderisasi yang terorganisir. Kegiatan-kegiatan kesenian semakin berkembang dengan adanya pementasan kesenian pada acara penutupan Kuliyah Kerja Nyata (KKN) di berbagai tempat/desa yang mana para mahasiswa KKN sedang melaksanakannya.
Kesenian-kesenian yang ditampilkan berjenis seperti puisi, drama komedi, rebana dan kesenian-kesenian islami. Selain itu pula para pemain juga kadang diminta untuk menjadi moderator atau pembawa acara dalam acara balelang (mengumpulkan dana) untuk amal pembangunan desa termasuk di dalamnya pembangunan sarana prasarana ibadah.
Menjelang akhir tahun 1983, (Kanda) Ardiansyah yang juga sebagai menteri kabinet bagian kesenian pada waktu itu mencoba memberi masukkan kepada pihak Dekanat Fakultas Tarbiyah dengan dukungan kawan-kawan SMF dan beberapa mahasiswa agar bisa menjadikan kesenian di Fakultas Tarbiyah memiliki lembaga mandiri sehingga bisa berkembang lebih terarah dan bergenerasi. Selain itu ia menekankan beberapa alasan atau pertimbangan untuk mengajukkan menjadi sebuah organisasi
Dengan adanya bagian dalam kabinet SMF Tarbiyah, maka itu menjadi wadah untuk menyalurkan kreatifitas mahasiswa fakultas tarbiyah. Walaupun pada masa tersebut belum ada sistem kaderisasi yang terorganisir. Kegiatan-kegiatan kesenian semakin berkembang dengan adanya pementasan kesenian pada acara penutupan Kuliyah Kerja Nyata (KKN) di berbagai tempat/desa yang mana para mahasiswa KKN sedang melaksanakannya.
Kesenian-kesenian yang ditampilkan berjenis seperti puisi, drama komedi, rebana dan kesenian-kesenian islami. Selain itu pula para pemain juga kadang diminta untuk menjadi moderator atau pembawa acara dalam acara balelang (mengumpulkan dana) untuk amal pembangunan desa termasuk di dalamnya pembangunan sarana prasarana ibadah.
Menjelang akhir tahun 1983, (Kanda) Ardiansyah yang juga sebagai menteri kabinet bagian kesenian pada waktu itu mencoba memberi masukkan kepada pihak Dekanat Fakultas Tarbiyah dengan dukungan kawan-kawan SMF dan beberapa mahasiswa agar bisa menjadikan kesenian di Fakultas Tarbiyah memiliki lembaga mandiri sehingga bisa berkembang lebih terarah dan bergenerasi. Selain itu ia menekankan beberapa alasan atau pertimbangan untuk mengajukkan menjadi sebuah organisasi
- Kesenian merupakan minat bakat yang perlu dikembang dalam diri mahasiswa karena kesenian bersifat kegiatan positif.
- Kesenian merupakan hiburan bagi mahasiswa setelah lelahnya dan munculnya tekanan mentalitas yaitu kebosanan karena aktifitas yang hampir mirip setiap harinya.
- Dasar-dasar dalam berkesenian adalah penting dalam membentuk mentalitas seorang pengajar, pemimpin atau bagian penting dalam kehidupan pendidikan. Karena di dalam dasar tersebut, seorang mahasiswa tidak lah pantang untuk menyerah dalam menggapai esensinya sebagai pengajar.
- Dasar-dasar dalam kesenian merupakan keilmuan yang diadobsi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga ketika seorang mahasiswa mempelajarinya lebih menyenangkan dan mudah dicerna.
bersambung ...
0 komentar:
Posting Komentar